Kamis, 11 September 2014

Menjadi Pendidik

Guru, pengajar, pendidik. Apa yang membedakan ketiganya? Aku sendiri masih harus mempelajarinya. Aku mungkin bukanlah guru, pengajar, maupun pendidik. Karena sejauh ini aku hanya peduli pada diri sendiri. Apa yang kupunya, apa yang kuketahui adalah untuk memuaskan hasrat diri ini. Menjadi pandai maupun kaya, bukan sesuatu yang absolut buatku.

Selasa, 9/9/2014 kemarin aku memenuhi panggilan kepala sebuah SMK di Kawunganten. Well, sebenarnya aku datang juga atas permintaan seorang kawanku. Sebelumnya aku memang sudah menulis surat lamaran yang ditujukan ke sekolah tersebut.

Beberapa lamaran sudah kutulis dan kukirimkan ke beberapa SMK di Sidareja. Tapi hingga kini statusnya tidak jelas. Namun ada satu lamaran yang membuatku merasa senang yaitu ketika pihak sekolah yang kulamar menyatakan dengan jelas kalau lamaranku ditolak. Analoginya akan sama dengan ketika kamu nembak cewe, pilih mana? Ditolak, atau didiemin tapi tau-tau si cewe dapat pacar baru?

Nah, kembali ke guru, pengajar, dan pendidik tadi. Seperti yang kutuliskn tadi di awal, aku masih harus mempelajarinya karena aku nampaknya masih belum pantas menjadi ketiganya. Namun setidaknya aku punya sedikit gambaran.

Sejak sekolah dasar, bahkan hingga setelah lulus SMA yang kutahu seorang guru adalah orang yang berangkat ke sekolah berada di didepan kelas dan memberikan materi pelajaran. Rasanya bukan cuma aku yang punya pemahaman seperti itu, bukan pula sesuatu yang salah.

Kegemaranku membaca berbagai bacaan, milis, buku, koran, dan majalah memberiku beberapa pemahaman selain kata guru, ialah pengajar dan pendidik. Guru, dalam bahasa jawa digugu lan ditiru artinya dipatuhi dan ditiru. Atau glugu rubuh yang berarti pohon kelapa tumbang yang memiliki makna jembatan. Setiap orang memerlukan guru, untuk mencapai sukses seseorang perlu belajar dari guru. Setidaknya itu juga yang pernah disampaikan oleh guru MTsku dulu.

Kepala SMK tadi menyampaikan beberapa hal ketika menerimaku. Beliau berharap agar aku menjadi pendidik di lembaganya, bukan guru maupun pengajar. Menurut beliau guru hanyalah orang berseragam yang bergaya di depan kelas, pengajar hanyalah orang yang mengajarkan sesuatu, sedangkan pendidik dapat memberi teladan bagi peserta didiknya.

Pesan lain yang beliau sampaikan saat itu ialah agar saya tak terlalu berharap akan mendapat gaji yang besar untuk menjadi pendidik. Untuk hal ini, jauh sebelum bermimpi menjadi seorang pendidik aku telah memahami bahwa gaji guru/pendidik kecil. Dalam kesempatan yang sama kusampaikan, bahwa jika itu adalah motivasiku mungkin aku telah keluar dari LKP dari dulu. Beliau juga berpesan agar aku tak meninggalkan kelas atau tidak masuk tanpa izin, termasuk agar tak menjadikan lembaganya menjadi ajang uji coba.

Bismillah, semoga aku dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Monggo....dipun komentari.....