Selasa, 13 September 2016

Dari Kapan Lulus Sampai Kapan Nikah?

Senin, 12 September 2016, 08:31

Tepat saat hari raya idul adha, hari ini aku menuliskan ini. Saat di mana aku telah lama tidak ngeblog. Ada banyak cerita yang terlewatkan di sini. Perlu gak nih aku tuliskan, kalo saat aku menulis ini sedang tidak ada koneksi internet. Yah, pada hari di mana sinyal operator tri sedang lenyap dari muka bumi. Entah kenapa.

Cerita tentang diklat Guru Bisa di BLC Telkom Klaten yang berlangsung selama seminggu, tanggal 8-13 Agustus 2016. Pengalaman yang mengasyikkan. Aku (dan banyak peserta lainnya) belajar banyak di sana. Aku yang saat berangkat, tidak cukup suka dengan yang namanya MikroTik. Mau tak mau harus belajar MikroTik. Di antaranya karena ada yang memintaku untuk mengajarinya, mau tak mau aku harus bisa. Selama enam hari di sana, aku berkenalan dengan banyak orang. Diklat tesebut memang dikhususkan untuk para guru. Ada yang dari Riau (yang sebenarnya dia orang Brebes, tapi bekerja dan menetap di Riau bersama istri dan keluarga kecilnya). Ada yang dari Semarang, ada yang dari Jakarta, ada pula yang dari Jombang, Kediri, Klaten, dan lain-lain.

Ah, rasanya tak banyak yang bisa kuceritakan. Meski ada satu kata kunci di sini, "sampluk" yang dilontarkan pak Huda. Menurutnya, aku bisa membuat distro dengan nama itu. Dan aku hanya bisa tertawa. Hahahahaha....

Oiya, ada juga cerita tentang aku yang sempat mengikuti Workshop bersama seorang jurnalis Prancis pada 1-2 Agustus 2016 di Hotel Grand Kanaya Baturraden. Meski bagi sebagian orang, hal ini bukanlah apa-apa, bagiku pengalaman ini cukup mengasyikkan. Dan, meskipun aku sendiri dapat memahami apa yang pembicara sampaikan dalam bahasa Inggris, aku merasa kikuk untuk berbicara dengan bahasa tersebut. Sempat juga diminta untuk ngomong di depan kamera sebagai testimoni untuk AJI Kota Purwokerto, tapi mungkin karena kalimat yang terucap dari mulutku terkesan wagu, gak tau deh mukaku dimunculkan atau tidak di video testimoninya.

Nah, sebenarnya itu cerita yang berlangsung sudah lama. Baru-baru ini aku sedang merasakan jenuh. Entahlah, aku mungkin merasa jenuh karena beberapa anak di kelas tingkat akhir. Atau memang aku merasa jenuh karena bosan dengan suasana dan lingkungan sekolah. Aku tau, tak seharusnya begini.

Dan pertanyaan yang sempat melintas di kepalaku (sempat juga diajukan oleh temanku), apakah aku akan di sekolah selamanya? Hemmm, rasanya tidak ada perkembangan kalau aku selalu-dan selalu menerap di situ. Anggaplah ini sebagai wacana, pada saat yang tepat, aku telah memiliki usaha yang cukup menjanjikan sebagai penghasilan utamaku. Dan pada saat itu aku akan ada 2 pilihan. Apakah aku akan tetap di sekolah sebagai pengabdian bagi dunia pendidikan, atau aku akan keluar dan fokus ke duniaku menjadi seorang pengusaha, alias bisnisman.

Anggap saja itu sebagai angan, atau impian, atau apapun itu. Yang pasti, saat ini, aku masih di sini. Masih bersama anak-anak yang ingin belajar. Belajar menjadi apa yang mereka inginkan. Tugasku adalah menuntun mereka, sebisa yang kumampu.

Okelah, mari kita bahas hal yang lain. Nah, baru kemarin aku mampir ke rumah lilikku (baca: paman) di Sidareja. Dan pertanyaan klasik pun muncul. Kapan rep mbojo? Dilanjutkan dengan kalimat, "adine wis pada gede loh" (ind: adikmu sudah besar-besar loh). Aku pun hanya dapat tertawa mendapati pertanyaan demikian.

Beberapa hari sebelumnya aku bertemu dengan lik Tirah. Pun menanyakan hal yang serupa. meski dengan kalimat berbeda. Aku pun menimpali dengan kalimat "lilikke beh urung" (baca: paman juga belum). Karena memang adik termuda dari ibuku juga belum menikah. Di usianya yang mungkin akan (atau bahkan sudah) menginjak kepala empat, beliau masih "setia" dengan status lajangnya. Beliau masih sibuk mengurus adiknya --yang kebanyakan orang akan menyebutnya dengan kata "keterbelakangan mental"-- yang paling disayanginya.

Ya, katakanlah aku sudah punya rencana untuk itu. Aku tetap belum dapat mengungkapkan pada siapapun. Karena aku belum begitu yakin, karena aku belum "ngomong" dengan kedua orang-tuaku. Aku tau, orang-orang di sekelilingku (termasuk pacarku) menunggu kejelaskan dariku, aku hanya bisa menjawab : "aku menunggu saat yang tepat buat ngomong ke ortuku." Tentunya aku berharap, mereka akan langsung setuju.

Ah, banyak sekali misteri di dunia ini. Termasuk perasaan manusia. Silakan baca catatan ini, tapi setelah itu lupakan! Dan jangan sekali-sekali dibahas! Gak penting tauk.....

Minggu, 24 Juli 2016

Belajar Sekaligus Berlibur di Sekolah Garasi

Kemarin (Rabu, 20 Juli 2016) aku naik kereta Malabar menuju Turen, Malang, Jawa Timur. Duduk di bangku bernomor 1B dan 1A, kami berhadapan dengan sepasang suami istri yang masih muda. Lucunya, nama yang pria mirip dengan namaku. Hanya saja, namanya terdapat perulangan, yaitu Arif Samsul Ma'arif. Sedangkan istrinya bernama Anna.

Dalam obrolan yang berlangsung beberapa kali, akhirnya aku tau kalau mereka baru menikah dua bulan lalu sebelum bulan Ramadhan. Suami dan sang istri sama-sama asli Tasikmalaya, namun sang suami mengaku pernah merantau di Kediri.

Dalam perjalanan tersebut, sang suami sengaja mengajak istrinya untuk sama-sama hidup di Kediri. Dia akan bekerja sebagai penjual es campur. Bos es campurnya juga katanya dari Tasik juga.

Apa yang saya pelajari dari obrolan kami adalah, bahwa hidup memang perlu perjuangan.

Saat tulisan ini dibuat (Minggu, 24 Juli 2016), aku sedang di Kereta Malabar 99 dalam perjalan kembali ke Cilacap dari stasiun Kepanjen, Malang, Jawa Timur. Menurut jadwal, aku akan sampai di Banjar pukul 04:14 WIB (11 jam perjalanan). Kenapa Banjar? Karena kereta yang saya tumpangi tidak ada yang turun di Gandrung maupun di Sidareja. Adanya di Kroya dan Banjar. Sedangkan yang terdekat ke rumah adalah Banjar.

Jadi, apa yang kulakukan selama di Malang? Di hari pertama aku di sana tak banyak yang kulakukan, selain tidur karena rasa kantuk yang tak tertahankan setelah naik kereta selama 11 jam. Sore harinya aku diajak silaturahmi ke rumah bu Kamad MI Amanah Turen, sekaligus ngobrolin tentang kegiatan pelatihan yang akan dilaksanakan esok harinya.

Malam harinya, aku berusaha menyiapkan materi presentasi yang akan digunakan saat pelatihan. Ehmmm, sebenarnya aku tak terlalu pede menggunakan kata "pelatihan", dua kali aku mengubah judul presentasiku. Dari kata "pelatihan", kemudian diubah "lokalatih", pada akhirnya aku menggunakan kata "lokakarya". Hahaha, aku sendiri bingung mana yang paling relevan. Tapi aku merasa lebih pede menggunakan kata "lokakarya". Aku menghindari kata "pelatihan" karena merasa aku bukan orang pintar yang dapat melatih orang lain. Tujuanku hanya berbagi ilmu yang kumiliki, dan berharap dapat bermanfaat bagi orang lain.

Nah, sebelum lokakarya berlangsung, aku diajak Yani, seorang pendidik ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) di MI Amanah Turen untuk pergi ke tempatnya mengajar. Sekolahnya yang memiliki semboyan/motto "Sekolah serasa di rumah sendiri" ini memang unik.

Bagaimana uniknya? Silakan baca di http://sekolahgarasi.sch.id

Ya, itu adalah alamat website sekolah tersebut. MI Amanah Turen adalah nama sekolahnya secara administratif, namun lebih populer disebut dengan sebutan Sekolah Garasi karena salah satu ruang kelasnya memanfaatkan bekas garasi mobil. Ruang kelas ini disebut juga kelas Kholifah 1, tempatnya berbeda dari ruang kelas reguler (jarak beberapa ratus meter).

Ada juga ruang kelas lain, yang juga tempatnya terpisah dan tak kalah unik yaitu Kelas Kholifah 2, atau disebut juga sekolah Kandang Bebek karena memanfaatkan bekas kandang bebek yang disulap sedemikian rupa menjadi ruang kelas.

Dan masih banyak keunikan-keunikan lain di sekolah ini yang tak kalah kerennya. Nah, kali ini secara singkat aku ingin ceritakan tentang lokakarya kemarin, Jumat, 22 Juli 2016 yang berlangsung di Sekolah Garasi. Lokakarya berlangsung lancar, meski saya sempat demam panggung. Karena berbicara di hadapan mba-mba yang cantik dan ibu-ibu yang keren serta mas-mas yang super cool. Heheheh.....

Dalam kesempatan itu, saya ceritakan sedikit tentang apa itu website sekolah. Apa saja manfaatnya, dan bagaimana cara memanfaatkannya, salah satunya dengan mengisi konten websitenya. Karena kebanyakan memiliki gawai Android, maka lebih mudah untuk mengisi konten websitenya. Aplikasinya tersedia, tinggal diinstall dari playstore, kemudian login melalui aplikasi tersebut, dan mulailah menulis.

Beberapa telah berhasil posting, meski ada juga yang kesulitan bahkan gagal install aplikasinya karena gawainya tidak dapat terhubung dengan internet #teknis.

Harapannya sih, setelah lokakarya tersebut konten website Sekolah Garasi akan lebih kaya. Dan menurutku, tak perlulah ada saling iri hati karena masing-masing punya kesempatan yang sama untuk menulis di website tersebut.

Syukur Alhamdulillah, lega rasanya bisa belajar bareng temen-temen di Sekolah Garasi. Selanjutnya, ditunggu deh karya temen-temen.

Sore hingga malam harinya aku tak terlalu ingat apa yang kulakukan, kecuali aku menyiapkan konsep (baca: daftar pertanyaan) untuk wawancara. Karena mumpung di sana, aku mencoba membuat apapun yang bisa kuperbuat. Termasuk membuat profil sekolah dalam bentuk video. Sekedar project iseng-isengan heheheh...

Sabtu, 23 Juli 2016 ternyata agendanya adalah Halal bi Halal sekaligus kegiatan parenting di kelas Kholifah 1. Parenting adalah kegiatan untuk menyamakan persepsi sekaligus saling konsultasi antara wali murid dan guru agar terjadi keselarasan antara guru dan orang tua murid dalam proses pembelajaran peserta didik. Pikirku, hari itu akan ada lokakarya lanjutan. Ternyata setelah acara tersebut, ada kunjungan ke sebuah cafe baru di tempat yang tak kutau namanya. Temen-temen pun terlihat capek setelah pulang dari cafe yang tak ditemukan pemiliknya. #hihihihi

Pagi tadi, Minggu, 24 Juli 2016 aku dan yani sempat berkunjung ke pantai Balekambang. Yah, ini momen kami berdua. Terlalu manis untuk diceritakan di sini. #heheheh Hari ini juga aku pulang ke Cilacap dengan kereta yang sama pukul 16:30 waktu Kepanjen. Insya Alloh akan sampai di Banjar Patroman pukul 04:18 WIB.

-- terkirim dari ponsel #linux
@samsulmaarif_

http://www.samsul.web.id