Rabu, 02 November 2011

Ijazah - Android - Laptop - Kuliah

Ijazah - Mengapa sampai sekarang ijazahku belum kuambil? Dulu aku pernah kerja di Alfamart yang di sana mewajibkan setiap karyawan untuk menyerahkan ijazah aslinya sebagai salah satu syarat untuk menjadi karyawan. Bukan merupakan ide buruk untuk mencari pekerjaan ketika menganggur dan bekerja ketika kita diterima. Tapi menyerahkan ijazah SMA asli ke perusahaan tempat kita bekerja semestinya adalah sebuah pilihan. Tapi di Alfamart, kita tidak akan diberi pilihan karena itu adalah 'wajib' bagi setiap karyawan. 

Mei 2009 saya sudah mulai bekerja di Alfamart, dan pada Maret 2010 saya keluar (atau lebih tepatnya dikeluarkan karena keteledoran saya dalam bekerja). Dan menjadi salah satu alasan saya menulis kata Ijazah ini adalah sampai sekarang ijazah tersebut belum saya ambil. Tidak ada alasan yang dapat saya jelaskan di sini, beberapa dari teman-teman yang bercerita berbeda-beda. Ada yang bilang proses pengambilan ijazah di Alfamart berbelit-belit, disuruh minta tanda tangan pak ini - pak itu, manajer ini - manajer itu dan ini memakan waktu yang tak sebentar. Ada juga yang bercerita kalau pengambilan ijazahnya mudah dan cepat. Apapun itu, yang jelas saat hendak mengambil ijazah harus dipersiapkan uang sejumlah sekian rupiah terlebih dahulu untuk membayar "hutang" kepada pihak Alfamart. Tahu apa yang saya maksud "hutang" di sini? silahkan tanya kepada karyawan Alfamart terdekat :D

Android - Mengapa kata ini juga perlu kutulis? Entahlah, mungkin hanya sebuah alasan atau keinginan atau hanya sekedar hayalan. Mungkin juga karena sekarang sudah zamannya ponsel Android, aku jadi ingin memilikinya. Salah satu alasan yang paling masuk akal buat saya adalah dengan ponsel Android aku bisa bereksperimen dengan WiFi di tempat kerja dan bisa saya gunakan untuk belajar (membaca eBook karena saya merasa kurang leluasa kalau membaca eBook di depan komputer). Saya ingin bisa membaca buku elektronik di mana saja, tak hanya ketika di depan komputer saja karena ponsel yang sekarang tidak bisa saya andalkan untuk membaca buku yang ukurannya 1Mb atau lebih.

Laptop - Keseharian ngoprek komputer (khususnya Linux) menjadikan saya memiliki keinginan untuk memiliki sebuah mesin tersendiri. Dasar manusia! Ya, saya hanya ingin. Apakah saya salah jika saya memiliki keinginan? Tentu tidak, bukan? Saya ingin memiliki keleluasaan untuk melakukan apapun dengan mesin saya sendiri. Mesin yang saya maksud di sini tentu saja mesin komputer/laptop. Laptop/Notebook/NetBook karena ukurannya lebih kecil dan merupakan komputer jinjing yang dapat di bawa ke mana saja.

Kuliah - Sebelum saya pindah dari Bantarsari ke Cinyawang, bos saya sempat menawarkan apakah saya hendak kuliah atau tidak. Saya jawab saja saya belum punya keinginan, ya, karena saya belum punya keinginan. Di samping itu saya belum pernah membayangkan apa komentar orang tuaku kalau aku pergi kuliah, dan karena saya belum pernah mengungkapkannya kepada mereka. 

Beberapa hari yang lalu teman yang kukenal melalui sosial media di internet datang ke tempatku. Dia seorang guru dan juga seorang mahasiswa menawarkanku untuk kuliah. Dia menggunakan kata-kata yang antara lain "Kuliah untuk mendewasakan diri, kuliah untuk mengembangkan diri" dan kata-kata yang lain yang otakku tak dapat mengingatnya dengan tepat. Kalimat sederhananya cukup menggoyahkan jalan pikiranku. Dia mengajakku untuk kuliah di bidang TIK yang tak jauh dari komputer. Dalam benakku pun pernah terpikirkan, kalau aku hendak kuliah, semestinya aku kuliah yang ada hubungannya dengan Linux.

Kesimpulan - Pada kesimpulannya, jika saya hendak mengurus/mengambil ijazah saya harus mau meluangkan waktu, mau meliburkan diri dan memohon izin kepada bos saya. Terlepas nanti apakah proses pengambilan ijazahnya akan berbelit-belit atau malah lebih mudah, tapi yang pasti harus ada "uang" untuk mengambilnya.

Jika saya hendak membeli ponsel Android, saya harus menabung terlebih dahulu karena harganya yang masih di luar "pagar". Jika saya hendak membeli laptop maka keinginan memiliki ponsel Android harus saya pangkas, alasannya pun karena harganya masih di luar "pagar" dan saya perlu menabung untuknya. Dan jika saya hendak pergi kuliah, saya harus mengambil ijazah terlebih dahulu, meminta izin dengan bos, dan utamanya saya harus mendapat izin serta doa restu dari orang tua saya. Ayah, ibu, serta adik-adik saya pun harus saya beritahu tentang hal ini. Jika mereka menolak atau keberatan, tidak mustahil saya harus memangkas keinginan saya untuk pergi kuliah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Monggo....dipun komentari.....