Senin, 03 Oktober 2011

Ketika Aku Curhat dengan Teman.

Mungkin judul lengkapnya akan seperti "Ketika Aku Curhat dengan Seorang Teman tentang Seorang Teman yang Lain".
Kau ingat, ketika bulan lalu aku bilang padamu aku akan ke rumah kemud pada saat lebaran? Tepatnya aku akan bilang padanya tentang sesuatu. Karena pada saat lebaran aku tak memenuhi janjiku, sekarang aku mendapat karmaku. Sabtu malam kemarin kemarin aku coba untuk menepati janjiku. Aku datang ke rumahnya, bertemu dengan orang tuanya, dan sedikit banyak ngobrol dengannya.
Ayahnya sedikit banyak menceritakan apa yang dialaminya selama ini. Beberapa kali dia kehilangan kesadarannya, beberapa kali mentalnya terserang penyakit, beberapa kali dia 'diobatkan','didukunkan', serta 'didokterkan', beberapa kali itu pula dia kambuh. Dan semua berawal ketika suatu hari dia pergi ke Jakarta untuk bekerja, tapi pada hari yang sama dia kehilangan kesaradannya. Kau tau kawan, keadaanya sungguh memprihatinkan (berdasarkan yang diceritakan ayahnya).
Sabtu malam kemarin aku mencoba mengajaknya bicara. Ini adalah percakapanku dengannya yang pertama kurang lebih sejak tujuh tahun terakhir. Awalnya dia menolak kuajak bicara, tapi karena dorongan dari orang tuanya dan beberapa orang lain yang kebetulan sedang ada di rumahnya, akhirnya dia mau. Kami ngobrol di depan rumah (tempat yang sepi) sesuai dengan saran dari ayahnya. Karena menurut beliau, dia akan malu jika banyak orang yang melihatnya (mungkin aku juga akan malu).
Pertanyaan kumulai degan menanyakan kabarnya, dia bilang dia baik-baik saja. Kemudian kulanjutkan dengan pertanyaan lain yang kuanggap perlu. Aku sempat mengulang pertanyaan pertamaku, mungkin sekali. Setelah beberapa pertanyaan yang kuajukan, tak banyak yang dijawabnya secara serius. Lalu kupersilahkan dia mengajukan pertanyaan. Tak banyak yang dia tanyakan, kujawab semua pertanyaannya seperlunya.
Ada satu pertanyaan yang diajukannya yang membuatku berpikir kalau aku tau apa yang ada dalam perasaannya.
"Kono siki karo sapa?" yang mengandung maksud "Kamu sekarang dengan siapa?"
Dia menanyakannya dengan lirih dan malu-malu. Sialnya pertanyaan itu kujawab dengan sedikit bercanda, nampaknya 'latah' candaanku sedikit 'kumat'.
Pagi hari, beberapa hari setelah itu saat aku hendak berangkat kerja aku mampir ke rumahnya. Dan memberikan apa yand dia minta melaluimu berupa nomor ponsel dan fotoku. Dia memang tidak memintanya secara langsung ke aku, dia memintanya melaluimu.

Yeah, i have no idea. Aku sempat terpikir sebelumnya untuk bicara dengannya. Tapi setelah tiba saatnya aku seperti kehilangan keberanian. Aku tak tahu bagaimana memulainya. Aku tak tahu bagaimana caranya. I have no idea. Bukan apa-apa, sebenarnya hanya satu keinginanku : Jangan sampai kelakuannya terulang terhadap orang lain. Sebelumnya An dan Li yang jadi 'korban'.
Jika kamu berpikir aku suka dengannya, kamu salah. Aku hanya berusaha menepati janjiku ke kamu, dan aku berharap dia tak mengulangi perbuatannya ke orang lain. Tapi ternyata apa yang kulakukan salah. Dia benar-benar "menggilaiku", pada hari yang sama setelah kuberikan nomor ponselku dia mengirimiku puluhan sms. Ini benar-benar menggangguku. Dia memulai dengan panggilan 'sayang'. Tak kurang dari puluhan sms yang dia kirimkan dalam sehari itu. Ini sangat menggangguku.

Bookmark and Share

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Monggo....dipun komentari.....