Sabtu, 02 April 2011

Belajar Linux

Tulisan ini bukan akan menjelaskan bagaimana cara menggunakan Linux, atau bagaimana belajar Linux. Tulisan ini hanya akan mengungkapkan pengalamanku belajar linux. Awalnya aku hanya penasaran, apa itu linux, katanya bebas virus, dan katanya gratis. Ternyata tidak, Linux tidak gratis, tapi bebas dan kebebasan, artinya kita bisa mendapatkan linux secara bebas di internet, namun kita harus membayar akses internet ke provider dan membeli CD blank (tidak gratis) untuk burn file ISO yang kita download tadi ke dalam CD.

Bermula dari rasa penasaran, akhirnya aku mencoba mencari-cari, lalu aku menemukan sebuah forum linux : linux.or.id dari sana aku mengerti adanya distro, apa itu distro linux. Lalu aku mencoba mengikuti petunjuk-petunjuknya, mendownload beberapa distro, memasukkannya ke dalam CD/DVD, dan memakainya tanpa perlu menginstallnya. Dari mencoba inilah, aku semakin penasaran. Kemudian aku membeli harddisk sendiri yang berkapasitas 80 GB.

Beberapa kali install ulang karena masih merasa gagal, pertama aku menginstall windowns xp seperti biasa, lalu kemudian aku menginstall, linux : ubuntu 10.10. Tapi hasilnya cukup mengecewakan, komuter hanya bisa booting windows xp, bahkan partisi linux sama sekali tidak terbaca di windows, jadi seolah-olah hilang. setelah saya bertanya kepada seseorang master linux, katanya pada pengaturan boot managernya perlu dirubah. Tapi karena saking oonnya saya, lalu saya install ulang ulang ubuntu 10.10-nya pada partisi windows xp yang tadi, sehingga windows xpnya hilang/terhapus. Sebenarnya setelah berhasil menginstall Ubuntu 10.10 saya masih merasa kecewa. Karena ternyata distro tersebut tidak dapat langsung dipakai. Tidak dapat memutar file-file musik dan video, dan aplikasi grafis GIMP tidak terinstall secara bawaan [default], jadi harus diinstall secara terpisah.

Setelah berhasil menginstall Ubuntu 10.10 dalam satu hardisk, yang menjadi satu-satunya OS yang saya gunakan/tanpa multi boot, saya masih harus mengupdate linux saya. Huft… membutuhkan waktu sekitar 5 jam untuk itu. Koneksi sangat lambat. Menginstall beberapa aplikasi yang saya rasa saya butuhkan, juga butuh koneksi internet.

Dibalik semua itu, linux adalah sistem operasi yang pernah saya bayangkan, bahkan ketika saya belum mengenal komputer. Coba tebak apa yang saya bayangkan waktu itu? Komputer adalah “ketik” dan “enter”. Yep, di linux ada terminal : tempat untuk “mengetikkan” baris perintah, kemudian tekan “enter” untuk mengeksekusinya. Sebenarnya hal ini juga bisa dilakukan di windows, melalui Command Prompt, tapi itu jarang dilakukan/digunakan. Meskipun kini Linux menggunakan GUI (Graphics User Interface), baris perintah masih akan perlu digunakan.

Beberapa distro yang sudah saya coba antara lain (tidak berurutan):
- Ubuntu 10.10
- Dreamlinux 3.5
- alinux 14
- fedora 14
- knoppix 3.8
- lupu 520 Pupy Linux
- lglive (game)
- ylmf OS 3.0 (yang mirip xp)
- Sabily
Terakhir yang aku coba adalah Sabily, Distro Islami ini sangat lengkap, ukurannya paling besar (yang aku download) 1.5 GB [butuh waktu delapan setengah jam untuk mendownloadnya]. Sedangkan yang paling ringan adalah Puppy Linux, ukurannya hanya 128 MB. Saya berencana menggunakan Sabily yang basicnya adalah Ubuntu 10.10, namun secara default setelah menginstall sabily dapat langsung digunakan untuk memutar musik/video, GIMP juga sudah terinstall dengan baik, serta beberapa aplikasi Islami dan game-game edukasi yang sangat bermanfaat jika nantinya komputer akan saya taruh di rumah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Monggo....dipun komentari.....