Jumat, 29 Oktober 2010

Biasanya Tak Kucantumkan dalam Judul

Aku seperti telah kehilangan nafsu untuk menulis, untuk mengungkapkan semua isi hatiku dalam sebuah catatan. Aku juga kehilangan, namun kehilangan apakah aku sebenarnya? Aku hanya merasa apa yang kurasakan ini adalah rasa cinta, rasa saying pada seseorang yang (selalu) aku tak dapat mengungkapkannya. Meski secara tersembunyi aku mengungkapkan dengan berbagai sikapku. Aku memeng selalu begini. Aku selalu susah untuk dibangunkan, aku selalu susah untuk menggungkapkan sikapku, menggungkapkan perasaanku, mengungkapkan isi hatiku. Meski aku sangat mencintainya.

Sekarang aku akan mencoba mengungkapknnya dengan sebuah catatan,lalu anggaplah ini sembuah surat. :

Wahai, engkau wanita pujaanku. Dengarlah isi hatiku. Dengarlah aku bersuara, menyanyikan lagu yang kau suka. Mengharapkan agar kau mendengarku. Mengharapkan agar kau menggerti isi hatiku. Aku yang selama ini bersikap demikian padamu adalah sebenarnya menyimpan perasaan yang ingin diungkapkan. Dengan berbagai cara ingin diungkapkkan, namun nampaknya keberanian belum aku miliki. Sungguh ironis, namun siapa yang bisa membendung perasaan cinta dan sayang yang sangat dalam terlalu lama.

Setiap orang yan tertimpa perasaan demikian, akan dengan segera, secepat mungkin mengungkapkan perasaannya, kecuali jika kau telah menjadi pecundang.

Aku ingin melengkapi catatanku dengan semua perasaanku. Dengan semua isi hatiku. Aku hanya bisa bilang aku sangat mencintainya, aku sangat menyayanginya. Aku tak kuasa menahan diriku untuk memanggilnya dengan sapaan ‘sayang’. Aku selalu memanggilnya dengan kata sayang. Karena aku sayang kamu.

Sialnya perasaan pesimisku lebih besar ketimbang perasaan percaya diriku. Ketimbang aku harus mengungkapkannya ternyata aku lebih memilih memendamnya dalam-dalam. Sehingga aku tak pernah mengungkapkannya, sehingga aku tak berani membeberakan kata demi kata isi hatiku. Sungguh bodohnya aku. Namun aku menikmati jalan cerita hidupku. Sesekali, bahkan berkali-kali aku memanggilnya dengan kata sayang. Lalu kemudian aku berkata pada diriku, biarlah cinta hanya akan menjadi cinta, dan sayang hanya akan menjadi sayang. Aku tak pernah tahu siapa jodohku. Bahkan seorang temanku yang telah berpacaran sekian lama, akhirnya bubar karena masalah kecil. Mereka bahkan telah kuanggap sudah menikah, atau lebih tepatnya sudah menjadi pasangan yang serasi, saling mengisi satu sama lainnya.

Cinta adalah cinta, namun akhir-akhir ini aku lebih memilih menggunakan kata ‘cinta adalah gujis’. Aku sendiri tak mengerti apa makna kata gujis sebenarnya, baik secara etimologi maupun secara harfiah atau secara-secara yan lain. Sehingga teman-temanku yang bermain tantra di netku, mereka menggunakan kata ‘gujis’ untuk memberi nama char mereka, misalnya : ‘aku_cinta_gujis’, ‘cinta_itu_gujis’ dan lain-lain. Bahkan mereka sebenarnya juga tak tahu apa artinya gujis. Hanya saja mereka sering mendengar kata-kata itu, entah itu dariku atau dari orang lain yang mengatakan.

Aku tak tahu, aku telah kehabisan semua kata yang ingin kuungkapkan.





---:Komen Silahkan, Tidak Ora Urusan:---




· Comment · Like · Share
Mas Min samsul.coretannya menarik se x.lilik tertarik bgt mbacanya.samsul.coba lilik di kirimin lagi.judulnya.hidup dan ibadah.hidup itu apa.dan ibadah itu apa.tlg di kirim ya.
15 hours ago via Facebook Mobile · Like

Samsul Ma'arif Muktisari ha ha ha, lilik ada-ad aja... itu tulisan yang terbentuk secara spontan. aku tak selalu bisa membuatnya.. kalau aku diminta untuk menulis, entah kapan aku akan menulisnya...... maksudku aku tidak yakin.. tapi akan aku usahakan lik, aku akan mencoba untuk menulisnya...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Monggo....dipun komentari.....