Sabtu, 10 April 2010

selagi sempat

blog ini kubuat tidak berdasarkan tema tertentu, aku menulis, aku mencurahkan apa yang ada dalam pikiranku. selagi sempat, apapun yang berkelebat dalam pikiranku dapat berpotensi kumuat dalam blog ini. entah itu berkaitan dengan tema cinta atau apapun itu. namun seringkali aku justru tak bisa memuntahkannya. kendalanya bisa bermacam-macam. dari mulai mood hingga media untuk mencurahkan. aku pernah dengar dari sebuah film bahwa mood itu diciptakan, bukan dicari. tapi mengapa aku tak pernah bisa menciptakan mood.

sejauh ini aku menulis hanya apa yang dapat kutulis saja. ketika aku menemukan berbagai ide, jika mood tak mendukung bisa saja dan seringkali ide itu justru lenyap,. entah ke mana.

foto di samping adalah foto pertamaku sepanjang hidupku. foto ini diambil di sulawesi selatan, ketika aku dan keluargaku trasmigrasi ke sana. dari kiri ke kanan, adikku Rosidin, kemudian ibuku, lalu yang paling kiri adalah aku ketika berusia kira-kira 6 tahun.

Pengalamanku ketika di Sulawesi Selatan tentunya memiliki banyak kenangan yang sayangnya hingga saat ini belum pernah aku ulas, apalagi secara mendalam . Ketika tahun 1994, kami sekeluarga, aku, ayah dan ibuku, dan seorang adikku pergi transmigrasi ke Sulawesi Selatan beserta puluhan atau mungkin ratusan warga masyarakat jawa lainnya. namanya juga transmigrasi, Transmigrasi (Latin: trans - seberang, migrare - pindah) adalah suatu program yang dibuat oleh pemerintah Indonesia untuk memindahkan penduduk dari suatu daerah yang padat penduduk ke daerah lain di dalam wilayah Indonesia. Penduduk yang melakukan transmigrasi disebut transmigran.

Aku ada sebuah cerita ketika itu, aku dan teman-teman mandi di sungai. di sana sungainya kebanyakan aliran sungai di sana memang jernih karena banyak material batu dan pasir yang terdapat di sungai. sangat sedikit tanah. Kami berenam dan orang tua-orang tua kami. aku dan adikku, Seorang cewek dengan adik laki-lakinya, dan Prayit dan adiknya pula. Sebelum kami tahu, Prayit nampak tak jauh beda dengan anak lainnya. Namun pada saat mandi di sungai, kami dikejutkan oleh tingkah lakunya yang rupanya itu adalah favoritnya. Dia (maaf) buang kotoran di pinggiran sungai dengan tangan kirinya menadahinya, kemudian melemparkannya ke arah cewek yang mandi bersama kami. tentu saja hal itu mengundang protes dari cewek tersebut kalau hal itu merupakan hal yang sangat tidak cewek tersebut sukai. Orang lain pun akan berontak jika dirinya dilempar kotoran manusia.

Cerita ini menjijikan, namun jika diceritakan ulang terasa menggelikan,. betapa kenakalan masa kecil yang tak mungkin akan terulang di masa kita dewasa. Seandainyapun hal itu dilakukan oleh orang dewasa, maka orang tersebut pastilah akan disebut orang yang tidak waras.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Monggo....dipun komentari.....