Senin, 19 Mei 2014

Menulis atau Tidak Menulis

Aku mengelola sebuah website desa, tepatnya desaku. Ya, Muktisari adalah nama desaku. Aku tak memiliki mimpi yang muluk-muluk. Aku hanya ingin website itu tetap hidup, dan aku selalu dapat memerbarui kontennya kapan saja. Itu saja.

Ada atau tidaknya manfaat dari apa yang sedang kulakukan, aku sendiri tak pernah tau jawabannya. Tapi orang-orang di sekelilingku, yang mendukungku seolah yakin dan mengerti akan faedahnya. Anggap saja aku sedang mencari jawabannya.

Ketika bertemu dengan para guru menulisku di @PenaDesa, mereka mengingatkanku untuk meng-email-kan dahulu sebelum kuposting di website. Hal tersebut agar kualitas tulisan yang dimuat lebih baik. Atau setidaknya akan sesuai dengan kaidah jurnalistik karena melalui tahap editing oleh editor, instruktur, dan para guru dari penadesa.

Aku sendiri hampir tak pernah melakukan itu. Biasanya aku menulis, langsung kuposting dan akan langsung nampak di website. Dengan segala hormat, dan tanpa mengurangi rasa hormat bukan aku merasa sudah pandai menulis atau apapun itu. Hanya saja menurutku prosesnya terlalu lama.

Pernah sekali aku mengirimkan dua tulisan yang berbeda ke 'editor' yang berbeda pula. Aku menunggu hasil jadinya terlalu lama menurutku. Sebenarnya bisa dipahami mengapa lama, lagipula bagi kebanyakan orang, email bukanlah hal yang eksklusif. Bahkan bagi pengguna smartphone sekalipun, tak semua mengaktifkan fasilitas emailnya.

Kalau saja prosesnya lebih mudah, misalnya saja. Penulis mengirimkan tulisan ke website, di situ kan ada fasilitas komentar. Tinggal dituliskan di kolom komentar masukkan dan sarannya. Atau melalui milis (lagi-lagi email), yang lain bisa membaca dan memberikan masukan secara langsung antaranggota.

Eh, itu menurutku loh ya..... Kalo gak setuju juga gak rugi kok.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Monggo....dipun komentari.....